Standar Nasional Indonesia (SNI) Baru untuk Minyak Goreng Sawit

Home / kfi / Standar Nasional Indonesia (SNI) Baru untuk Minyak Goreng Sawit
Dalam rangka mendukung program Pemerintah menanggulangi masalah kekurangan Vitamin A (KVA), Kementerian Perindustrian menyusun Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk minyak goreng sawit yang mensyaratkan Vitamin A sebagai salah satu unsur kualitas. Bersamaan dengan itu SNI minyak goreng selain sawit juga tengah diproses. Kedua SNI ini menggantikan SNI lama (2001) yang berlaku untuk minyak goreng secara keseluruhan antara lain minyak  kelapa, minyak jagung, minyak kedelai dan minyak kacang.

Rancangan SNI (RSNI) disusun oleh Panitia Teknis Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang beranggotakan antara lain perwakilan dari tiga Kementerian yaitu Perindustrian, Perdagangan dan Kesehatan, industri produsen minyak goreng sawit, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pakar minyak sawit, asosiasi profesi, Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan (KFI), dan Badan Standarisai Nasional (BSN).  Melalui serangkaian diskusi, Tim Teknis telah menghasilkan RSNI-3  nomer 7709:2011 pada bulan Maret 2011. Sesuai ketentuan BSN, RSNI-3 tersebut diumumkan pada situs BSN untuk mengetahui tanggapan masyarakat melalui jajak pendapat dengan media internet selama bulan April-Mei 2011.  Hasil jajak pendapat diumumkan pada 12 Juni 2011 dengan rincian 66 peserta setuju (84,6%), 10 tidak setuju (12,8%), dan 2 peserta abstain (2,6%).

Berdasarkan prosedur baku, dengan masih ada peserta jajak pendapat yang tidak setuju dan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi rancangan tersebut, maka dokumen RSNI-3 dikembalikan oleh BSN kepada Pusat Standarisasi Kemenperin dibahas kembali pada Panitia Teknis. Pembahasan tersebut menghasilkan konsensus berupa RSNI-4 (http://sisni.bsn.go.id/index.php/jml_sr/jajak/detail_laporan/3250). Selanjutnya Kemenperin menyampaikan RSNI-4 tersebut kepada BSN untuk proses jajak pendapat kedua bulan November-Desember 2011.  Hasilnya diumumkan 5 Januari 2012 dengan rincian 62 peserta setuju (82,6%), 11 tidak setuju (14,6%), dan 1 peserta abstain (1,3 %).  Dengan proporsi suara setuju di atas 75% pada jajak pendapat pertama dan kedua, RSNI tersebut telah disetujui menjadi SNI minyak goreng sawit dan saat ini sedang dalam proses penetapan oleh BSN, untuk kemudian diberlakukan dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Perindustrian. SK tersebut diharapkan selesai bukan Mei 2012.

Untuk menjamin efektivitas fortifikasi pada penanggulangan masalah KVA, Kemenperin akan mengajukan kepada BSN sebagai notification body untuk memproses SNI tersebut menjadi SNI wajib, sehingga seluruh minyak goreng, termasuk minyak goreng curah, terfortifikasi dengan vitamin A.  Pada saat ini beberapa industri minyak goreng telah melakukan fortifikasi secara sukarela, terutama untuk meningkatkan nilai jual minyak goreng kemasan yang mencakup 30% dari seluruh produk minyak goreng. Sebesar 70% sisanya berupa minyak goreng curah yang dikonsumsi masyarakat kurang mampu, belum terfortifikasi.  Dengan SNI wajib, seluruh minyak goreng akan difortifikasi. KFI (Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia) ikut aktif dalam proses penyusunan dan diskusi teknis SNI minyak goreng sawit, dan akan membantu Kemenperin dalam menyiapkan industri menerapkan SNI baru tersebut.

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.