Sosialisasi SNI Minyak Goreng Sawit Secara wajib oleh Kementerian Perindustrian, KFI didukung oleh KFI-SAFO 2

Home / kfi / Sosialisasi SNI Minyak Goreng Sawit Secara wajib oleh Kementerian Perindustrian, KFI didukung oleh KFI-SAFO 2
In kfi
Penyusunan petunjuk Teknis (Juknis) pelaksanaan SNI Minyak Goreng Sawit sudah dilaksanakan oleh tim lintas departemen. Juknis ini perlu di sosialisasikan kepada pelaku industri agar memahami dengan baik latar belakang, manfaat dan pentingnya fortifikasi vitamin A dalam Minyak goreng sawit terhadap masalah kesehatan masyarakat.

newsletter-v9-rev-newbBerdasarkan pertimbangan tersebut maka dilaksankan kegiatan sosialisasi SNI Minyak Goreng Sawit secara wajib di Surabaya, Medan dan Manado. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan pelaku industri minyak goreng sawit dalam memulai fortifikasi minyak goreng sawit dengan vitamin A yang akan belaku wajib pada tahun 2015. Beberapa tujuan spesifik kegiatan sosialisasi ini adalah : i) Memberikan pengetahuan dan informasi mengenai pentingnya fortifikasi pangan mengatasi masalah kesehatan masyrakat,ii) Menjelaskan substansi Permenperin No.87 tahun 2013 tentang pemberlakuan SNI MGS secara wajib dan wajib kemas, iv) Menjelaskan tekhni dan pengalaman fortifikasi MGS dengan vitamin A dari Praktisi.

Setiap Kegiatan ditiap kota ini dihadiri sekitra 50 peserta yang berasal dari produsen Minyak goreng sawit, distributor, pemerintah daerah, LS Pro, BPOM, Dinas kesehatan,dll. Pada setiap kegiatan dibuka oleh Pak Rochim, Direktur Pangan Hasil Laut dan Perikanan Kemenperin, dengan menyampaikan tujuan fortifikasi untuk membantu masyarakat mengatasi masalah kekurangan gizi mikro. Program fortifikasi sudah dimulai pada garam untuk mengatasi kekurangan yodium, terigu untuk zat seng, zat besi. Asam folat, vitamin B dan dilanjutkan minyak goreng untuk mengatasi Kekurangan Vitamin A (KVA).

SNI Minyak Goreng Sawit
Pilot proyek fortifikasi vitamin A pada minyak goreng sawit (MGS) sudah dilakukan pada tahun 2005 di Makasar oleh KFI didukung ADB, di katakan oleh Pak Rochim. Kesimpulan yang diperoleh bahwa penerapan fortifikasi MGS di Indonesia sangat feasible. Kemudian KFI di dukung oleh Organisasi Internasional GAIN telah meg- scale up fortifikasi MGS dengan partisipasi secara sukarela dari PT.WILMAR dan PT.Musim Mas awalnya. Kemudian Pak Rochim melanjutkan, bahwa SNI minyak goreng sawit penting untuk di terbitkan maka pada tahun 2012-2013 Kemenperin telah menerbitkan SNI MGS 7709:2012 yang mensyaratkan penambahan vit A sebesar 45 Iu/g di level pabrik. Setelah SNI diterbitkan, Kemenperin mendapat surat permintaan dari Menteri Kesehatan untuk mewajibkan SNI MGS tersebut untuk membantu anak-anak dan Ibu hamil dari keluraga miskin di seluruh wilayah mendapatkan tambahan asupan vitamin A.

new9bHal ini diperkuat dengan hasil studi oleh Kementerian Kesehatan (2007) yang menyimpulkan bahwa fortifikasi vitamin A dapat diterima konsumen karena tidak menyebabkan perubahan penampilan fisik, tahan setelah penggorengan, harga tidak naik signifikan dan dapat memperbaiki status vitamin A pada konsumen. Pak Rochim menyampaikan apresiasi kepada perusahaan MGS yang telah melakukan fortifikasi secara sukarela, serta mohon kepada peserta sosialisasi memberikan saran, masukan dan kritik agar SNI dapat diimplementasikan dengan baik.

Pak Doddy, Direktur Bina Gizi Kemenkes menjelaskan Latar Belakang dan Manfaat Fortifikasi bagi kesehatan masyarakat. Secara spesifik, beliau mengungkapkan masalah kurang vitamin A (KVA di Indonesia dan capaian Kemenkes saat ini melalui program kapsul vitamin A pada anak anak.

Setelah pemamparan oleh pak Doddy, dilanjutkan dengan pemamaparan oleh Kasubdit Industri makanan kementerian perindustrian, Pak Eddy Sutopo tentang substansi Permenperin no.87 tahun 32013 yang mewajibkan SNI 7709:2012 pada tahun 2015. Pak Eddy sedikit menguraikan susbtansi SNI 7709:2012 serta syarat mutu yang harus dipenuhi oleh industry MGS seperti: keadaannya, kadar air, Asam lemak bebas, Bilangan peroksida, VITAMIN A, minyak pelican, cemaran. Pihak yang bertanggung jawab atas syarat mutu ini adalah pelaku industri yang termasuk:i) Pabrikan.ii) Pengemas, iii) Importir. Pada setiap akhir pertemuan Pak Eddy menimpulkan bahwa i)ketentutan 40 IU/g di peredera akan ditinjau ulang setelah pemberlakuan wajib efektif, ii) Pengawasan SNI lintas departemen harus diharmoniskan, iii) pelaku industri diminta menyiapkan diri salah satunya untuk mengajukan SPPT SNI sebelum 27 Maret 2015.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.