Sembilan Bulan Pertama Menentukan Masa Depan

Home / kfi / Sembilan Bulan Pertama Menentukan Masa Depan
Pregnant Woman (Heide Benser / Corbis)

Pregnant Woman (Heide Benser / Corbis)

Sumber Artikel:
http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,2021065,00.html

Periode Window of Opportunity adalah kesempatan singkat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk periode panjang selanjutnya. Pada kehidupan manusia, kesempatan singkat ini adalah 1000 hari pertama kehidupan, sejak fase 9 bulan dalam kandungan hingga anak usia 2 tahun. Periode ini membentuk siapa dan bagaimana kita selanjutnya.

Mengapa  sebagian orang  mudah cemas, gemuk atau mengidap asma? Bagaimana bisa sebagian lagi rentan terhadap serangan jantung, diabetes atau tekanan darah tinggi? Beberapa jawaban dari para ahli adalah karena keturunan, perlakuan yang diterima pada masa kecil, dan pilihan pola hidup pada masa dewasa mencakup pola makan dan kadar aktivitas yang dilakukan.

Ada faktor yang berpengaruh tetapi belum menjadi perhatian, yaitu kondisi kehidupan fase janin. Jenis dan jumlah zat gizi yang diperoleh, polutan, obat obatan, dan penyakit infeksi yang terjadi selama kehamilan, kesehatan ibu, dan kejiwaannya saat hamil. Semua faktor tersebut membentuk Anda sejak bayi, usia anak dan terus mempengaruhi Anda sampai hari ini.

Pendapat ahli bidang penyakit bawaan menegaskan bahwa masa sembilan bulan kehamilan merupakan periode yang paling penting dari hidup kita yang secara permanen mempengaruhi pembentukan saraf otak dan fungsi organ seperti hati, jantung dan pankreas. Kondisi yang dialami janin di dalam rahim mempengaruhi daya tahan  terhadap penyakit, nafsu makan dan metabolisme, kecerdasan dan temperamen emosional. Lebih 10 tahun terakhir ini beberapa literatur mengungkapkan bahwa penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit jiwa sangat ditentukan oleh kondisi pada fase kehamilan.

Pemahaman atas pengaruh pengalaman prenatal menyebabkan orang melakukan upaya – upaya untuk memperkaya pengalaman janin, misalnya memperdengarkan musik Mozart pada perut hamil dan sebagainya. Pada kenyataannya, proses pembentukan yang terjadi dalam rahim jauh lebih mendalam dari pengaruh suara musik tersebut. Berbagai hal yang dialami ibu hamil dalam kehidupan sehari-hari seperti udara yang dihirup, makanan dan minuman yang dikonsumsi, paparan zat kimia, bahkan emosi yang dirasakan maka akan dirasakan juga oleh janinnya. Janin menyerap pengaruh tersebut ke dalam dirinya menjadi bagian dari tubuh dan darahnya.

Sering janin melakukan lebih dari itu, ia menjadikan dukungan ibu sebagai informasi biologis dunia luarnya. Yang ia serap bukanlah alunan musik Mozart yang mengagumkan, tetapi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting untuk kelangsungan hidupnya: Akankah ia dilahirkan dalam lingkungan berkelebihan atau berkekurangan? Akankah ia aman dan terlindungi?, atau selalu menghadapi bahaya dan ancaman? Akankah ia menjalani kehidupan panjang bermanfaat atau pendek terburu-buru?

Penelitian tentang asal janin juga disebut asal-usul perkembangan kesehatan dan penyakit. Pemenang hadiah Nobel, ekonom Amartya Sen misalnya, pada sebuah makalah tentang pentingnya asal janin bagi kesehatan dan produktivitas masyarakat: menulis bahwa pengalaman pranatal yang buruk sama halnya dengan “menabur benih-benih penyakit yang akan menimpa saat dewasa”. Pemahaman ini menjadikan rahim sebagai target potensial untuk pencegahan serta meningkatkan harapan untuk dapat mengatasi masalah kesehatan masyarakat seperti obesitas dan penyakit jantung melalui intervensi sebelum kelahiran.

Dua dekade lalu, seorang dokter Inggris bernama David Barker melihat korelasi yang aneh: Masyarakat wilayah termiskin di Inggris dan Wales mengalami prevalensi tertinggi penyakit jantung. Dia bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi?, penyakit jantung seharusnya dipengaruhi oleh kondisi kemakmuran yaitu dari gaya hidup dan makanan?. Dalam penyelidikannya, dia membandingkan kesehatan sekitar 15.000 individu orang dewasa dengan berat lahir mereka dan menemukan sebuah hubungan antara Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (suatu indikator gizi prenatal buruk) dan penyakit jantung di usia pertengahan. Barker menduga: Pada Janin yang kurang gizi terutama zat gizi mikro, selain tidak sempurnanya pembentukan organ-organ tubuh, syaraf otak, jantung, pankreas, dan lain lain, juga terjadi pemograman DNA sel-sel yang mengarah pada resiko tinggi terhadap penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung koroner, hipertensi, stroke, dan kanker pada usia yang relatif muda.

Ketika memaparkan temuan tersebut kepada rekan rekannya, ia disambut dengan cemoohan. “Penyakit jantung seharusnya berhubungan dengan faktor genetik atau faktor gaya hidup orang dewasa”. Barker bertahan, bagaimanapun, ada bukti yang memperlihatkan hubungan antara berat lahir dan penyakit jantung pada ribuan individu. Selama bertahun-tahun ide tersebut dikenal sebagai hipotesis Barker.

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.