Pengalaman Fortifikasi Minyak Goreng Sawit dengan Vitamin A oleh Wilmar

Home / kfi / Pengalaman Fortifikasi Minyak Goreng Sawit dengan Vitamin A oleh Wilmar
In kfi
(Preventing DNA Damage)
Disampaikan Jenny Elisabeth ( WILMAR Group ), dalam acara Pelaksanaan Fortifikasi Vitamin A Pada Minyak Goreng
Manado, Kamis 5 Juni 2014

Sejak April 2014 sampai dengan Juli 2014, Kementrian Perindustrian telah melaksanakan sosialisasi SNI Minyak Goreng secara wajib di tiga lokasi yaitu Surabaya, Medan dan Manado.

newsletter v9 rev newDirektur Industri Pangan Kementerian Perindustrian mengundang produsen minyak goreng sawit dan instansi lain yang berkaitan dengan pelaksanaan fortifikasi vitamin A pada minyak goreng sawit. Salah satu topik yang disampaikan adalah pengalaman fortifikasi minyak goreng sawit secara wajib oleh WILMAR Group yang disampaikan oleh Jenny Elisabeth. Beliau mengawali penjelasannya dengan upaya advokasi dengan para stakeholder untuk meningkatkan kesadaran masalah gizi di Indonesia. KFI sebagai sebuah lembaga yang peduli dengan upaya perbaikan masalah gizi masayarakat pada saat itu mendekati WILMAR Group dengan mengungkapkan masalah Kekurangan Vitamin A (KVA- <20, μg/dl yang mencapai di Indonesia yang penderitanya mencapai 14.6% dan diantaranya adalah 2.3 juta balita.

Permasalahan KVA masih melanda masyarakat Indonesia secara sub clinical factor, artinya permasalahan xeropthalmia (prevalensi > 0,5%-2002 dan 0.13%-2006) memang sudah jarang terjadi namun KVA dapat menyebabkan daya tahan tubuh yang lemah (imunitas bayi), kematian, terlambatnya tumbuh kembang janin dan anak. Hal ini masih terjadi khususnya pada balita, ibu pra-hamil, ibu hamil dan menyusui.

Sementara itu coverage suplementasi kapsul vitamin A untuk baduta masih belum optimal. Salah satu cara untuk mengatasi masalah KVA ini adalah melalui fortifikasi vitamin A dengan vehicle food minyak goreng sawit. Selain faktor vitamin A yang relatif stabil dalam minyak goreng sawit, fortifikasi vitamin A juga sangat cost effective. Wilmar Group mendukung fortifikasi vitamin A ini sejalan dengan konversi minyak goreng curah ke minyak goreng kemasan sederhana. Dengan jumlah kebutuhan minyak goreng di Indonesia sebesar 3.2 juta MT per tahun saat ini, hanya sekitar 12% yang dijual dalam bentuk minyak goreng kemasan.

Vitamin and minerals are micronutrients that facilitate the process of producing energy and other biological processes necessary to maintain health. There are many vitamins and minerals, but only some of them are of public health concern. Problems due to lack of vitamins and minerals are the main problem experienced by many developing countries, including Indonesia. The vitamins are vitamin A, various B vitamins, especially folate, vitamin B1, B2, and B12, whereas the minerals are iodine, iron, and zinc. Lack of other types of minerals such as calcium, may be clinically associated with risk of disease, but it is not considered as public health problem.

Menyadari masalah tersebut maka WILMAR Group merasa perlu berperan dalam fortifikasi vitamin A pada minyak goreng sawit yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Sebenarnya Wilmar sudah melakukan fortifikasi vitamin A dalam minyak makan olein sawit sejak tahun 2000 melalui program WFP (World Food Program) PBB untuk negara-negara Afrika, Asia Selatan dan Timur Tengah dengan menambah vitamin A 24-36 IU/g dan vitamin D 3-4 IU/g pada olein. Wilmar juga melakukan fortifikasi untuk semua minyak goreng kemasan yang diekspor ke Filipina, karena sudah merupakan program mandatory di Filipina dengan menambahkan vitamin A sebesar minimum 40 IU/g atau 33% AKG (angka kecukupan gizi) per sajian. Pada saat memutuskan untuk terlibat dalam proyek percontohan fortifikasi vitamin A pada minyak goreng sawit, beberapa kalangan menyampaikan anggapan bahwa produsen minyak goreng dengan sengaja menghilangkan vitamin A dalam bentuk beta-karoten dan kemudian menambahkan vitamin A kembali. Padahal beta-karoten dalam minyak sawit hilang oleh pemanasan pada proses permurnian minyak sawit (proses deodorisasi), karena sifat beta-karoten yang tidak tahan terhadap suhu tinggi. Sementara jika tidak dilakukan proses pemurnian dengan suhu tinggi, maka minyak sawit akan kurang layak untuk digunakan sebagai minyak goreng karena akan memiliki bau dan rasa yang kurang dapat diterima oleh konsumen serta stabilitas minyak goreng yang rendah yang menyebabkannya menjadi mudah rusak/ tengik.

Alternatif lain minyak goreng kaya provitamin A adalah minyak goreng sawit merah, yang dinilai memiliki peluang untuk memperbaiki masalah KVA di Indonesia. Namun pihak industri menilai bahwa tingkat penerimaan masyarakat untuk minyak goreng sawit merah masih sangat rendah, disamping harganya yang masih tinggi karena teknologi untuk mempertahankan beta-karoten dalam minyak sawit relatif mahal seperti metode SFE/supercritical fluid extraction atau molecular distillation). Dengan demikian Wilmar menganggap bahwa fortifikasi vitamin A merupakan jalan keluar yang terbaik saat ini untuk mengatasi masalah KVA, sambil menantikan penemuan teknologi pemurnian minyak  and minerals are mainly found in fruits and vegetables sawit yang tidak mahal namun dapat mempertahankan beta-karoten.

Wilmar memulai program fortifikasi vitamin A dalam minyak goreng sawit secara sukarela pada tahun 2010, bersamaan dengan pengembangan regulasi dan standar oleh pemerintah. Awalnya vitamin A yang ditambahkan adalah sebesar 35 IU/g (25% AKG per sajian) dan vitamin D 3-4 IU/g, namun setelah SNI 7709:2012 minyak goreng sawit diterbitkan maka penambahan vitamin A ditingkatkan sesuai dengan SNI yakni 45 IU/g minimum.

Pengalaman Fortifikasi Minyak Goreng Sawit
Beberapa pengalaman yang diperoleh Wilmar selama berpartisipasi dalam fortifikasi sukarela ini dirasakan akan sangat berbeda jika program mandatory dilaksanakan. Dengan program sukarela maka biaya tambahan pada produk yang difortifikasi akan dibebankan ke konsumen, sehingga dibutuhkan awareness konsumen yang tinggi untuk membeli dengan tambahan harga. Tingkat persaingan harga produk minyak goreng yang tinggi juga menjadi salah satu faktor keberatan pihak industri. Untuk melaksanakan program fortifikasi secara sukarela, diperkirakan target sasaran hanya konsumen yang relatif mampu dan bukan kelompok yang rawan gizi. Harga minyak goreng sawit yang ditambah vitamin A secara sukarela relatif lebih tinggi, hal ini membuat kelompok masyarakat tidak mampu dan cenderung rawan tidak tertarik untuk membeli. Penerapan fortifikasi vitamin A secara sukarela akan kurang optimal karena tidak adanya law enforcement dan konsekuensinya

Jumlah Produksi Minyak Goreng Sawit yang Difortifikasi dan Biayanya
Wilmar juga bekerjasama dengan KFI dalam melakukan fortifikasi vitamin A pada minyak goreng curah di beberapa daerah di Indonesia. KFI membantu Wilmar melakukan peningkatan kapasitas teknis melalui pelatihan dan pilot proyek fortifikasi vitamin A pada minyak goreng curah ini. Hasil kerjasama tersebut adalah sebagai berikut :
• Tahun 2011 sebanyak 113.380 ton minyak goreng curah untuk daerah distribusi Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian Utara
• Tahun 2012 sebanyak 154.720 ton minyak goreng curah untuk daerah distribusi Jawa Barat, Jawa Tengah bagian Utara, dan Jambi
• Tahun 2013 sebanyak 50.564 ton minyak goreng curah untuk daerah distribusi Jawa Barat
• Tahun 2014 sebanyak 77.700 ton minyak goreng curah untuk daerah distribusi Jawa Barat dan Kalimantan Barat.
Biaya penambahan vitamin A 45 IU/g adalah sekitar Rp 50-70 per kg, dengan komponen biaya sebesar 50% untuk biaya fortifikan vitamin A, 45% biaya proses dan tenaga kerja, 5% biaya pengendalian mutu.

Proses Fortifikasi
Proses penambahan vitamin A dilakukan setelah konsentrat vitamin A dilarutkan terlebih dahulu dengan minyak goreng (1/1000) menjadi premix minyak goreng, untuk kemudian dicampurkan dengan minyak goreng di tangki penyimpanan (storage tank) ataupun didosing di jalur pipa selama transfer ke tanki penyimpanan. Pencampuran dapat juga dilakukan di mobil tanki, namun tingkat homogenitas yang dihasilkan adalah lebih rendah.

Konsentrat vitamin A harus diperhatikan sisa umur simpannya, di mana disarankan untuk membeli konsentrat vitamin A yang memiliki sisa umur simpan minimal 2/3 dari umur simpan yang ditetapkan oleh produsennya pada saat penerimaan dan masih memiliki sisa umur simpan minimal 3 bulan saat digunakan. Hal ini dilakukan menimbang bahwa konsentrasi vitamin A dalam premix dapat mengalami penurunan, sehingga perlu dilakukan analisa kandungan vitamin A dalam konsentrat dan penghitungan jumlah konsentrat vitamin A yang harus ditambahkan untuk memenuhi spesifikasi standar. Jenis konsentrat vitamin A komersial adalah dengan Konsentrasi 1.0 juta IU/g dan 1.7 juta IU/g.

Kontrol kandungan vitamin A dalam konsentrat vitamin A dan minyak goreng sawit yang difortifikasi dengan vitamin A dapat dilakukan dengan beberapa metode:
• Metode Pharmacopoeia 6.0 dengan UV-Spectrophotometer untuk analisa kandungan vitamin A pada konsentrat/premix
• Instrument BASF untuk analisa kandungan vitamin A secara semi-kuantitatif dalam minyak goreng
• Metode HPLC untuk analisa vitamin A dalam minyak goreng yang menjadi metode SNI dan digunakan untuk verifikasi dan validasi
• Instrumen i-Check Chroma untuk rapid test kuantitatif dalam minyak goreng.

Penyusunan petunjuk Teknis (Juknis) pelaksanaan SNI Minyak Goreng Sawit sudah dilaksanakan oleh tim lintas departemen. Juknis ini perlu di sosialisasikan kepada pelaku industri agar memahami dengan baik latar belakang, manfaat dan pentingnya fortifikasi vitamin A dalam Minyak goreng sawit terhadap masalah kesehatan masyarakat.

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dilaksankan kegiatan sosialisasi SNI Minyak Goreng Sawit secara wajib di Surabaya, Medan dan Manado. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan pelaku industri minyak goreng sawit dalam memulai fortifikasi minyak goreng sawit dengan vitamin A yang akan belaku wajib pada tahun 2015. Beberapa tujuan spesifik kegiatan sosialisasi ini adalah : i) Memberikan pengetahuan dan informasi mengenai pentingnya fortifikasi pangan mengatasi masalah kesehatan masyrakat,ii) Menjelaskan substansi Permenperin No.87 tahun 2013 tentang pemberlakuan SNI MGS secara wajib dan wajib kemas, iv) Menjelaskan tekhni dan pengalaman fortifikasi MGS dengan vitamin A dari Praktisi.

Setiap Kegiatan ditiap kota ini dihadiri sekitra 50 peserta yang berasal dari produsen Minyak goreng sawit, distributor, pemerintah daerah, LS Pro, BPOM, Dinas kesehatan,dll. Pada setiap kegiatan dibuka oleh Pak Rochim, Direktur Pangan Hasil Laut dan Perikanan Kemenperin, dengan menyampaikan tujuan fortifikasi untuk membantu masyarakat mengatasi masalah kekurangan gizi mikro. Program fortifikasi sudah dimulai pada garam untuk mengatasi kekurangan yodium, terigu untuk zat seng, zat besi. Asam folat, vitamin B dan dilanjutkan minyak goreng untuk mengatasi Kekurangan Vitamin A (KVA).

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.