Mengapa Mulai dengan Garam dan Tepung Terigu?

Home / Mengapa Mulai dengan Garam dan Tepung Terigu?

Tantangan dalam fortifikasi wajib adalah mendapatkan bahan makanan yang memenuhi syarat sebagai kendaraan pembawa bagi zat gizi tertentu…

Hasil survei awal tahun 1980-an menemukan 5 makanan yang berpotensi menjadi pembawa fortifikasi, yaitu : garam, bumbu penyedap MSG, minyak goreng, gula, dan tepung terigu. Beras tidak termasuk karena ada beberapa aspek yang tidak memenuhi  kriteria fortifikasi wajib, yang akan diuraikan kemudian.

Dari ke-5 komoditi pangan tersebut yang paling memenuhi syarat  untuk dicoba difortifikasi pada awal tahun 1980an  adalah  garam, MSG, dan terigu. Karena itu program fortifikasi di Indonesia dimulai dengan 3 komoditi tersebut. Sebenarnya garam kurang memenuhi syarat untuk difortifikasi wajib karena  produsen garam, petani garam dan  pengusaha garam rakyat  (besar dan kecil)  jumlahnya sangat besar (puluhan ribu) dan tersebar. Namun demikian karena luas dan gawatnya masalah gangguan kesehatan karena kurang yodium (GAKY) di masyarakat, upaya pencegahan dan penanggulangannya harus segera dilaksanakan.  Untuk itu tidak banyak pilihan kecuali melaksakanan yodisasi garam secara nasional.

Bumbu penyedap MSG yang pada tahun 1980-an hanya diproduksi oleh 2 pabrik, sangat memenuhi persyaratan fortifikasi. Seperti halnya dengan garam, MSG dijumpai di hampir setiap rumah tangga, baik kaya maupun miskin. MSG memenuhi syarat untuk  fortifikasi vitamin A yang juga merupakan salah satu masalah kekurangan gizi penting di Indonesia sampai sekarang. Pada tahun 1980-an dilakukan percobaan fortifikasi vitamin A pada bumbu penyedap MSG.  Hal serupa pernah dilakukan juga di Philipina. Hasil percobaan dari kedua negara tersebut positif. Fortifikasi MSG dengan vitamin A menurunkan prevalensi kurang vitamin A pada balita keluarga miskin. Meskipun demikian percobaan ini tidak berlanjut menjadi program, oleh karena masalah teknologi (terjadi perubahan warna MSG) dan adanya kelompok masyarakat yang menentang pemakaian MSG secara luas.

Di tahun 2007 dilakukan percobaan untuk fortifikasi vitamin A ke dalam minyak goreng. Proyek percobaan ini berhasil sehingga kemudian diterapkan dalam skala produksi yang diawali oelh 2 produsen minyak goreng. Langkah-langkah berikutnya terus dilakukan dengan harapan bahwa SNI akan mewajibkan fortifikasi minyak goreng dengan vitamin A di tahun 2013. Apabila berhasil, dimasa yang akan datang diharapkan semua minyak goreng, sudah mengandung vitamin A. Pilihan lain adalah fortifikasi gula dengan vitamin A seperti dilakukan di Amerika Latin selama 10 tahun terakhir. Kemungkinan fortifikasi gula dengan vitamin A di Indonesia masih kecil mengingat produksi dan perdagangan  gula masih sering  menghadapi banyak masalah.

Komoditi tepung terigu sangat memenuhi syarat untuk fortifikasi, antara lain karena pabriknya terbatas hanya 4 buah. Tepung terigu juga memenuhi syarat untuk difortifikasi dengan zat besi.  Meskipun pada awal tahun 2000-an konsumsi terigu perkapita di Indonesia hanya sekitar 15 kg per tahun. Di Indonesia  diprediksi  konsumsi terigu akan terus meningkat seperti yang terjadi  di negara Asia lainnya.  Bahkan   menjadi makanan pokok kedua setelah beras. Di Indonesia, konsumen terigu pada kelompok masyarakat miskin dalam bentuk mi basah juga diperkirakan makin  meningkat terutama di perkotaan.

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.