Makanan yang dapat difortifikasi

Home / Makanan yang dapat difortifikasi

Terdapat dua macam fortifikasi, pertama fortifikasi sukarela oleh industri pangan kemasaan untuk meningkatkan nilai tambah. Tidak selalu untuk tujuan perbaikan gizi bahkan kadang-kadang bertentangan dengan kebijakan perbaikan gizi masyarakat. Kedua fortifikasi wajib yang bertujuan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi masayarakat, khususnya masyarakat miskin. Syarat untuk fortifikasi wajib,

pertama,makanan yang umumnya selalu ada disetiap rumah tangga dan dimakan secara teratur dan terus-menerus oleh masyarakat termasuk masyarakat miskin.

Kedua, makanan itu diproduksi dan diolah oleh produsen yang terbatas jumlahnya, agar mudah diawasiproses fortifikasinya. Ketiga, tersedianya teknologi fortifikasi untuk makanan yang dipilih.

Keempat, makanan tidak berubah rasa, warna dan konsistensi setelah difortifikasi.

Kelima, tetap aman dalam arti tidak membahayakan kesehatan. Oleh karena itu program fortifikasi harus diatur oleh undang-undang atau peraturan pemerintah, diawasi dan dimonitor, serta dievaluasi secara teratur dan terus menerus. Dan

keenam, harga makanan setelah difortifikasi tetap terjangkau daya beli konsumen yang menjadi sasaran.

Atas dasar persyaratan tersebut, makanan yang umumnya difortifikasi (wajib) terbatas pada jenis makanan pokok  (terigu, jagung, beras),  makanan penyedap atau bumbu seperti garam, minyak goreng, gula,  kecap kedele, kecap ikan, dan Mono Sodium Glutamat (MSG).

Pilihan zat gizi yang ditambahkan kedalam makanan untuk difortifikasi (”fortifikan”) ditentukan oleh masalah kekurangan gizi yang ada dengan pertimbangan teknis kimiawi,  daya serap dalam sistem pencernaan, manfaat biologis (“bioavailability”), dan pengaruhnya terhadap rasa, penampilan, dan keamanan makanan, dan harga.

Setiap negara menentukan jenis makanan yang akan difortifikasi, yang selanjutnya disebut sebagai makanan “pembawa”  (“vehicles”),  sesuai dengan pola makan setempatsertamemenuhi syarat untuk fortifikasi wajib. Sedang penentuan jenis dan dosis fortifikan yang dipakai disesuaikan dengan makanan pembawa, peraturan pemerintah dan internasional (WHO/FAO), kebutuhan tubuh, serta masalah kekurangan gizi setempat. Misalnya di

RRC : kecap kedele dan kecap ikan difortifikasi dengan zat besi ; tepung terigu dengan zat besi, asam folat, dan vitamin A ; beras dengan zat besi dan direncanakan juga dengan vitamin A.

India : tepung terigu  dengan zat besi, asam folat, dan vitamin B ; gula  dengan vitamin A ;  minyak dan lemak, teh, dan susu dengan vitamin A. Philipina : fortifikasi  tepung terigu dengan zat besi, asam folat dan vitamin A.

Thailand : mie dengan zat besi, yodium dan vitamin A ; beras dengan zat besi, vitamin B1, B2, B6, dan niacin.

Vietnam : kecap ikan dengan zat besi ; gula dengan vitamin A.

Amerika Latin : 20 negara di Amerika Latin semua tepung terigu dan tepung jagung difortifikasi dengan zat besi ; gula dengan vitamin A.

Indonesia : Garam dengan Yodium, tepung terigu dengan zat besi, seng, asam folat, vitamin B1 dan B2, dan minyak goreng dengan vitamin A.

Tingkatan program fortifikasi di beberapa negara  beragam dari tingkat studi kelayakan, percobaan, diijinkan (permitted) untuk diproduksi dan dipasarkan, sampai pada tingkat wajib (mandatory).

Idealnya perbaikan gizi ditempuh dengan memperbaiki konsumsi makanan keluarga sehari-hari berdasarkan gizi seimbang. Namun, tidak semua anggota keluarga dapat memenuhi gizi seimbang karena  ketidakmampuan ekonomi dan atau kurangnya pengetahuan. Untuk memenuhi gizi seimbang, masyarakat ‘tidak mampu’ membutuhkan daya beli yang cukup, dan pengetahuan tentang gizi seimbang. Upaya peningkatan daya beli masyarakat memerlukan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan pro-rakyat miskin. Sementara hasilnya tidak dapat diharapkan terlihat dalam waktu singkat. Padahal balita yang Kekurangan Gizi Mikro (KGM) membutuhkan pertolongan saat ini. Artinya, diperlukan program gizi saat anak masih balita dan orang tua masih miskin, agar balita terhindar dari dampak negatif KGM terhadap kesehatan, kecerdasan dan produktivitasnya, apabila mereka dewasa. Ilmu pengetahuan gizi dan ilmu teknologi pangan sejak awal abad ke-20 telah berhasil melakukan terobosan untuk menolong mereka yang menderita kurang gizi mikro pada saat mereka masih miskin. Teknologi fortifikasi pangan merupakan salah satu terobosan tersebut.

Manfaat Fortifikasi Pangan

Global Alliance for Improving Nutrition (GAIN) tahun 2006 melaporkan hasil fortifikasi pangan di berbagai negara. Fortifikasi terigu dengan zat besi di Chile berhasil “menghapus” anemia karena kurang zat besi, sehingga anemia tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat (prevalensi hanya 1-7%). Sementara prevalensi kelainan bawaan pada saraf tulang belakang bayi lahir, yang dikenal dengan Neural Tube Defect (NTD) akibat ibunya ketika hamil kurang asam folat, turun dari 17 per 10.000 menjadi 10 per 10.000. Padahal di negara tetangganya, Argentina, yang tidak melaksanakan fortifikasi terigu, prevalensi anemi tercatat 27 persen.Demikian juga di China yang telah melaksanakan fortifikasi (sukarela) kecap ikan dan kecap kedelai dengan zat besi, prevalensi anemia di kalangan perempuan dan balita turun dari 35-40 menjadi 10 persen setelah setahun fortifikasi. Di Amerika Latin, fortifikasi gula dengan vitamin A, dalam 5 tahun berhasil menurunkan prevalensi kurang vitamin A dari 40 menjadi 13 persen. Studi efikasi fortifikasi beras dengan zat besi di Filipina menunjukkan pula penurunan prevalensi anemia di antara anak sekolah dasar di Manila.
Demoge Assessment  Report (DAR) dari UNICEF dan MI (2004) menyatakan fortifikasi minyak goreng dngan vitamin A di 75 negara menurunkan 20% prevalensi kekurangan vitamin A pada balita.

Idealnya perbaikan gizi ditempuh dengan memperbaiki konsumsi makanan keluarga sehari-hari berdasarkan gizi seimbang. Namun, tidak semua anggota keluarga dapat memenuhi gizi seimbang karena  ketidakmampuan ekonomi dan atau kurangnya pengetahuan. Untuk memenuhi gizi seimbang, masyarakat ‘tidak mampu’ membutuhkan daya beli yang cukup, dan pengetahuan tentang gizi seimbang. Upaya peningkatan daya beli masyarakat memerlukan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan pro-rakyat miskin. Sementara hasilnya tidak dapat diharapkan terlihat dalam waktu singkat. Padahal balita yang Kekurangan Gizi Mikro (KGM) membutuhkan pertolongan saat ini. Artinya, diperlukan program gizi saat anak masih balita dan orang tua masih miskin, agar balita terhindar dari dampak negatif KGM terhadap kesehatan, kecerdasan dan produktivitasnya, apabila mereka dewasa. Ilmu pengetahuan gizi dan ilmu teknologi pangan sejak awal abad ke-20 telah berhasil melakukan terobosan untuk menolong mereka yang menderita kurang gizi mikro pada saat mereka masih miskin. Teknologi fortifikasi pangan merupakan salah satu terobosan tersebut.

Manfaat Fortifikasi Pangan

Global Alliance for Improving Nutrition (GAIN) tahun 2006 melaporkan hasil fortifikasi pangan di berbagai negara. Fortifikasi terigu dengan zat besi di Chile berhasil “menghapus” anemia karena kurang zat besi, sehingga anemia tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat (prevalensi hanya 1-7%). Sementara prevalensi kelainan bawaan pada saraf tulang belakang bayi lahir, yang dikenal dengan Neural Tube Defect (NTD) akibat ibunya ketika hamil kurang asam folat, turun dari 17 per 10.000 menjadi 10 per 10.000. Padahal di negara tetangganya, Argentina, yang tidak melaksanakan fortifikasi terigu, prevalensi anemi tercatat 27 persen.Demikian juga di China yang telah melaksanakan fortifikasi (sukarela) kecap ikan dan kecap kedelai dengan zat besi, prevalensi anemia di kalangan perempuan dan balita turun dari 35-40 menjadi 10 persen setelah setahun fortifikasi. Di Amerika Latin, fortifikasi gula dengan vitamin A, dalam 5 tahun berhasil menurunkan prevalensi kurang vitamin A dari 40 menjadi 13 persen. Studi efikasi fortifikasi beras dengan zat besi di Filipina menunjukkan pula penurunan prevalensi anemia di antara anak sekolah dasar di Manila.
Demoge Assessment  Report (DAR) dari UNICEF dan MI (2004) menyatakan fortifikasi minyak goreng dngan vitamin A di 75 negara menurunkan 20% prevalensi kekurangan vitamin A pada balita.

Idealnya perbaikan gizi ditempuh dengan memperbaiki konsumsi makanan keluarga sehari-hari berdasarkan gizi seimbang. Namun, tidak semua anggota keluarga dapat memenuhi gizi seimbang karena  ketidakmampuan ekonomi dan atau kurangnya pengetahuan. Untuk memenuhi gizi seimbang, masyarakat ‘tidak mampu’ membutuhkan daya beli yang cukup, dan pengetahuan tentang gizi seimbang. Upaya peningkatan daya beli masyarakat memerlukan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan pro-rakyat miskin. Sementara hasilnya tidak dapat diharapkan terlihat dalam waktu singkat. Padahal balita yang Kekurangan Gizi Mikro (KGM) membutuhkan pertolongan saat ini. Artinya, diperlukan program gizi saat anak masih balita dan orang tua masih miskin, agar balita terhindar dari dampak negatif KGM terhadap kesehatan, kecerdasan dan produktivitasnya, apabila mereka dewasa. Ilmu pengetahuan gizi dan ilmu teknologi pangan sejak awal abad ke-20 telah berhasil melakukan terobosan untuk menolong mereka yang menderita kurang gizi mikro pada saat mereka masih miskin. Teknologi fortifikasi pangan merupakan salah satu terobosan tersebut.

Manfaat Fortifikasi Pangan

Global Alliance for Improving Nutrition (GAIN) tahun 2006 melaporkan hasil fortifikasi pangan di berbagai negara. Fortifikasi terigu dengan zat besi di Chile berhasil “menghapus” anemia karena kurang zat besi, sehingga anemia tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat (prevalensi hanya 1-7%). Sementara prevalensi kelainan bawaan pada saraf tulang belakang bayi lahir, yang dikenal dengan Neural Tube Defect (NTD) akibat ibunya ketika hamil kurang asam folat, turun dari 17 per 10.000 menjadi 10 per 10.000. Padahal di negara tetangganya, Argentina, yang tidak melaksanakan fortifikasi terigu, prevalensi anemi tercatat 27 persen.Demikian juga di China yang telah melaksanakan fortifikasi (sukarela) kecap ikan dan kecap kedelai dengan zat besi, prevalensi anemia di kalangan perempuan dan balita turun dari 35-40 menjadi 10 persen setelah setahun fortifikasi. Di Amerika Latin, fortifikasi gula dengan vitamin A, dalam 5 tahun berhasil menurunkan prevalensi kurang vitamin A dari 40 menjadi 13 persen. Studi efikasi fortifikasi beras dengan zat besi di Filipina menunjukkan pula penurunan prevalensi anemia di antara anak sekolah dasar di Manila.
Demoge Assessment  Report (DAR) dari UNICEF dan MI (2004) menyatakan fortifikasi minyak goreng dngan vitamin A di 75 negara menurunkan 20% prevalensi kekurangan vitamin A pada balita.

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.