Evaluasi Dampak Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Goreng Sawit untuk Menurunkan Prevalensi Kekurangan Vitamin A (KVA) pada Bayi, Anak – anak, Ibu Menyusui dan Wanita Subur

Home / kfi / Evaluasi Dampak Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Goreng Sawit untuk Menurunkan Prevalensi Kekurangan Vitamin A (KVA) pada Bayi, Anak – anak, Ibu Menyusui dan Wanita Subur
In kfi
Prof.Soekirman
Jakarta, April 15, 2014: Masalah kekurangan vitamin A (KVA) merupakan penyebab meningkatnya angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) di Indonesia. Meskipun manifestasi klinis seperti xeropthalmia terus menurun selama bebrapa dekade terakhir, KVA masih terjadi pada ibu hamil dan menyusui dan anak anak usia pra sekolah. Pola makan berbasis gizi seimbang belum cukup menyediakan asupan vitamin A yang diharapkan, kemiskinan dan pola makan yang tidak memadai (inadequate) berkorelasi sangat erat dengan status vitamin A yang buruk.
Fortifikasi minyak goreng sawit dengan vitamin A adalah cara yang paling efektif dan murah dalam memperbaiki status vitamin A, termasuk juga bayi yang memperoleh asupan vitamin A dari ibunya. Menurut studi kelayakan yang telah dilakukan sebelumnya bahwa fortifikasi minyak goreng sawit dengan vitamin A di Indonesia sangat feasible dilaksanakan, lebih dari 80% masyarakat kaya dan miskin mengkonsumsi minyak goreng sawit. Minyak goreng curah sebagian besar diproduksi oleh prudusen-produsen besar, dengan rentang waktu 3 – 4 minggu mencapai rumah tangga.
Fortifikasi level sebesar 40 IU/g di pabrik, diperkirakan Diperkirakan akan berkontribusi 30 % terhadap asupan gizi yang diharapkan (RNI).Oleh sebab itu KFI dengan dukungan dari GAIN telah melakukan fortifikasi vitamin A secara sukarela di provinsi Jawa timur dan Jawa barat.
Dalam rangka menilai cakupan program dan evaluasi dampak, melalui kerjasama antara BALITBANGKES, Kemenkes dan KFI serta dengan dukungan pembiayaan dari GAIN dan GIZ-SAFO, melaksanakan studi evaluasi fotifikasi Minyak Goreng Sawit curah dengan retinyl palmitate (vitamin A) di kabupaten Ciamis dan kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat pada tahun 2011-2012. Tujuan studi adalah menguji efektifitas fortifikasi Minyak Goreng Curah dengan Retinyl Palmitate terhadap peningkatan status Retinol dan prevalensi Kekurangan Vitamin A pada anak usia pra sekolah dan anak sekolah, Wanita usia Subur dan Ibu menyusui. Desain studi ini adalah perbandingan pre (Baseline) pada Juli 2011 dan post (Endline) pada Juli 2012.
news9dSampel dipilih secara acak pada rumah tangga yang miskin dari 24 desa di Ciamis dan Tasikmalaya. Survey untuk kelompok umur anak 6-59 bulan dan ibu menyusui didesain secara cross-sectional. Kelompok umur anak sekolah dan wanita usia subur secar cohort. Faktor determinan dalam studi ini meliputi : konsumsi makanan dan minyak goreng sawit (data recall); konsentrasi vitamin A pada minyak goreng sawit di level Rumah Tanggga, Warung, Distributor dan Pabrik; cakupan kapsul vitamin A pada anak dibawah 5 tahun dan karakteristik sosio ekonomi status rumah tangga.

 

Minyak goreng sawit curah yang telah di fortifikasi dengan vitamin A berdampak sebagai berikut :
1. meningkatkan asupan vitamin A pada semua kelompok umur dengan kontribusi rata rata RNI 26%,40%,38%,29% dan 35% pada anak anak 12-23 bulan, 24-59 bulan, 5-9 tahun, ibu menyusui dan wanita usia subur. Secara umum adanya peningkatan 2-19 dari Baseline ke Endline
2. meningkatnya serum retinol > 10% pada darah semua kelompok dari Baseline ke Endline
3. prevalensi Kekurangan Vitamin A (RE<20 mg/dl) menurun sedikitnya 50% pada semua kelompok umur
4. Efek positif terhadap peningkatan vitamin A pada ASI dan juga bayinya meskipun bayi tidak mengkonsumsi minyak goreng sawit.

Untuk menurunkan kandungan iodium konsumsi meskipun pada waktu sebelumnya telah di katakan bahwa level kandungannya masih aman untuk kebanyakan penduduk di China. Menurut Kementrian kesehatan China, bahwa jumlah iodium pada garam konsumsi yang dianjurkan saat ini sebesar 20 s/d 60 mg/kg. Pemerintah provinsi yang berwenang mengusulkan standarisasi kandungan iodium dalam garam konsumsi sebesar + 30% tergantung pada Angka Kebutuhan Gizi pada masing masing daaerah. Sehingga tingkat tertinggi level iodium pada garam konsumsi dapat dicapai sekitar 39 mg/kg dan terendah 14 mg/kg.
Chen Zupei, seorang peneliti senior Kementrian Kesehatan mengatakan bahwa perbedaan konsumsi garam beriodium pada masyarakat di masing masing regional membuat penyeragaman standarisasi bagi semua orang akan sangat tidak realistis.
Mereka menjelaskan lebih jauh, meskipun saat ini level kandungan iodium pada garam konsumsi cukup diterima baik oleh kebanyakan masyarakat namun 5 dari 34 provinsi mengkonsumsi iodium pada garam sangat berlebihan dan 16 provinsi lainnya mengkonsumsi lebih dari yang dianggap sehat. Daerah yang mengkonsumsi garam beriodium berlebihan bukan pada wilayah pesisir dimana makanan seafood tersedia cukup mudah disana. Orang – orang china di China bagian tengah seperti Provinsi Hunan mengkonsumsi garam lebih banyak dari pada orang China bagian selatan, jadi cukup wajar level iodium mereka lebih tinggi, ujar Chain.
Secara statistik, Kementrian Kesehatan melaporkan pada tahun 2009 menunjukan hampir 31 Juta populasi penduduk di Provins Shandong, Hebei dan Jiangsu memiliki level iodium yang tidak normal dalam tubuh mereka.
Konsumsi berlebihan (Overconsumption) iodium akan mengakibatkan masalah pada kelenjar Thyroid, sepertihlnya ditunjukan dari data terkini oleh Asosiasi Dokter China bahwa 50 Juta penduduk China mengalami masalah masalah kelenjar Thyroid.
Sebenarnya Pemerintah China sudah kali keempat melakukan penyesuaian level kandungan iodium pada garam sejak tahun 1995.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.