Bagaimana Masa Depan Fortifikasi di Indonesia?

Home / Bagaimana Masa Depan Fortifikasi di Indonesia?

Program fortifikasi pangan secara global diprediksi akan menjadi program gizi utama, seperti yang terjadi di negara-negara maju.  Untuk Indonesia, hal itu akan tergantung pada beberapa hal sebagai berikut.

Pertama, pemahaman masyarakat akan pentingnya pola makan dengan gizi seimbang. Fortifikasi berperan untuk menyeimbangkan mutu gizi makanan yang sebelumnya tidak cukup mengandung vitamin dan mineral.

Kedua, kesadaran pemerintah akan pentingnya investasi program gizi yang secara eksplisit menjadi bagian dari pembangunan nasional dan daerah, khususnya pembangunan SDM. Hanya dengan kesadaran ini, kewajiban pemerintah untuk melaksanakan dan mengawasi program fortifikasi pangan yang  tercantum dalam UU  Pangan tahun 1996, dapat diwujudkan.

Untuk butir pertama dan kedua diatas, diperlukan upaya pendidikan gizi masyarakat yang sungguh-sungguh dan profesional melalui pendekatan “social marketing”. Pendidikan gizi, demikian juga  pendidikan kesehatan masyarakat yang secara konvensional melalui proyek-proyek swakelola pemerintah seperti selama ini dilakukan, tidak mungkin efektif merubah sikap dan perilaku masyarakat. Cara-cara konvensional itu tidak akan mampu menghadapi “keganasan” serbuan iklan-iklan dan kampanye komersil yang tidak jarang bertentangan dengan prinsip pola makan bergizi seimbang dan pola hidup sehat pada umumnya. Seperti iklan rokok, susu formula terselubung, suplemen makanan dengan janji-janji yang sering menyesatkan, makanan jajanan tinggi lemak dan tingi gula, dan sebagainya.

Ketiga, masa depan fortifikasi tergantung juga pada keberhasilan kedua program fortifikasi yang sedang berjalan yaitu yodisasi garam dan fortifikasi tepung terigu. Untuk yodisasi garam diperlukan perhatian khusus di daerah-daerah pedalaman dan terisolir yang endemik kurang yodium. Di daerah-daerah ini, persentasi rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium masih rendah, jauh dibawah rata-rata nasional (73%). Untuk daerah khusus ini, advokasi kepada Pemda perlu ditekankan pada bahaya laten kebodohan (IQ rendah) dari penduduknya apabila tidak ada upaya sungguh-sungguh untuk memotivasi penduduk membeli dan mengkonsumsi garam beryodium dengan cukup.

Untuk fortifikasi tepung terigu, pemerintah perlu segera melakukan uji efektivitas untuk mengetahui dampaknya  terhadap penurunan prevalensi anemia karena kurang zat besi pada berbagai kelompok masyarakat seperti telah dibuktikan di negara-negara lain.

Selanjutnya, perkembangan fortifikasi juga tergantung pada hasil rintisan pengembangan BTB (Bantuan Tunai Bersyarat) untuk MP-ASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) balita, dan percobaan fortifikasi minyak dengan vitamin A.  Beberapa pakar gizi, menaruh harapan besar terhadap “sprinkles” atau taburia sebagai terobosan teknologi gizi mencegah dan mengatasi masalah gizi kurang (termasuk kurang zat gizi mikro) pada balita dari keluarga miskin. Sedang keberhasilan fortifikasi minyak dengan vitamin A, akan menentukan perlu tidaknya program suplementasi kapsul vitamin A untuk balita dan ibu nifas di hentikan dikemudian hari. Penggantian suplementasi dengan fortifikasi berarti penghematan anggaran belanja negara. Karena biaya program fortifikasi relatif jauh lebih murah dan lebih efektif  daripada suplementasi.

” Pada masa ini tidak ada teknologi yang menjanjikan kesempatan begitu besar untuk meningkatkan kualitas hidup dengan biaya begitu rendah dan dengan dampak terlihat dalam waktu begitu singkat ……. seperti fortifikasi ” – demikian menurut Bank Dunia.

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.