Fortifikasi Sukarela dan Fortifikasi Wajib

Home / Apa Itu Fortifikasi Pangan ? / Fortifikasi Sukarela dan Fortifikasi Wajib

Fortifikasi sukarela dilakukan atas prakarsa pengusaha produsen pangan untuk meningkatkan nilai tambah produknya sehingga lebih menarik konsumen. Upaya ini tanpa diharuskan oleh undang-undang atau peraturan pemerintah. Dasar pertimbangan fortifikasi sukarela lebih banyak mengacu kepada segi bisnis dan komersial daripada gizi dan kesehatan, meskipun dalam promosinya segi kesehatan ini yang ditonjolkan. Produsen menentukan sendiri komoditi makanan yang akan difortifikasi. Sasaran fortifikasi sukarela adalah semua orang yang mampu dan mau membeli komoditi yang difortifikasi.

Tidak demikian halnya dengan fortifikasi wajib. Fortifikasi wajib diharuskan oleh undang-undang dan peraturan pemerintah. Sasaran utama program fortifikasi wajib adalah masyarakat miskin, meskipun masyarakat lain yang tidak miskin juga tercakup. Oleh karena itu fortifikasi wajib lebih banyak menjadi perhatian pemerintah sebagai bagian tanggung jawabnya untuk mensejahterakan masyarakat. Sedang komoditi makanan yang difortifikasi lebih terbatas karena harus memenuhi persyaratan tertentu.

Lebih dari 80 tahun, fortifikasi pangan (selanjutnya disingkat fortifikasi) telah di laksanakan di negara maju. Pada awalnya fortifikasi ditujukan  untuk mengembalikan zat gizi yang hilang dalam proses pengolahan makanan.  Misalnya dalam proses penggilingan padi menjadi beras dan gandum menjadi tepung terigu, banyak vitamin dan mineral yang hilang. Teknologi fortifikasi berupaya mengembalikan zat gizi yang hilang tersebut.

Di dalam perkembangannya, fortifikasi tidak hanya untuk mengembalikan zat gizi yang hilang. Fortifikasi merupakan upaya untuk meningkatkan kesehatan  dan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan gizi. Fortifikasi terbukti telah berjasa mengatasi masalah kurang gizi mikro di Eropa, Amerika Utara dan akhir-akhir ini di Amerika Latin. Negara pertama yang melakukan program fortifikasi adalah Amerika Serikat. Pada tahun 1920 di negara tersebut telah mengeluarkan peraturan wajib menambahkan zat yodium pada garam untuk menanggulangi penyakit  akibat kurang yodium. Sejak awal abad ke-20 sampai sekarang yodisasi garam menjadi program global yang diwajibkan oleh undang-undang setiap negara. Di Indonesia program yodisasi garam dimulai akhir tahun 1970-an, kemudian ditingkatkan menjadi fortifikasi wajib  oleh Keputusan  Presiden No. 69 tahun 1994

Fortifikasi tepung terigu dengan zat besi di Amerika dimulai tahun 1938, dan di Swedia tahun 1965. Sedang fortifikasi vitamin A pada  mentega, susu dan lain-lain di Eropa dan Amerika dimulai sejak perang  dunia kedua. Program fortifikasi di Negara Barat telah berhasil menuntaskan berbagai masalah kurang gizi, yang masih menjadi masalah di banyak negara berkembang sampai sekarang.

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.